Senin, 04 Juli 2016

Pulang yang tak lagi kembali

Sunyi duduk seorang diri. Ia termangu usai Jarak memutuskan untuk kembali kepada kekasihnya. Begitulah rahasia dikuburkan. Tidak sempat terkuak atau menguras air mata. Sunyi hanya tiada, tidak pernah dianggap ada.

***

Dua tahun bukan waktu yang singkat bagi Sunyi dan Jarak memadu kasih. Meski Jarak tak lagi sendiri, Sunyi tak mampu mencegah hati untuk mengagumi betapa ia rela berbagi dan mengasihi. Mereka terlihat begitu serasi dan adalah pasangan idaman yang membuat iri.

Keduanya tak tahu kapan semua dimulai. Sepemahaman Sunyi, dia rela dibagi walau hanya separuh kasih dari hati Jarak yang lebih dahulu berlabuh pada kekasihnya. Secuilpun Sunyi rasa tak akan iri jika Jarak lebih mencintai kekasihnya. Dia rela menjadi bukan yang pertama, kedua, atau ketiga. Kesekian urutan angka yang muncul, asalkan nama Sunyi tersebutkan ketika Jarak berpaling dari kekasihnya.

Sunyi sendiri tidak memahami alasan mengapa Jarak menduakan kekasihnya jika memang dia benar-benar tak bisa meninggalkannya. Sunyi tak pernah memikirkannya. Ia hanya bisa merasakan kehangatan dari setiap tatap mata dalam kehadiran Jarak. Semua menjadi candu bagi Sunyi dalam seketika.

Terlambat bagi Sunyi untuk mampu bangun pagi tanpa menatap bias matahari yang menembus lekuk tubuh Jarak. Sarapan pagi seorang diri pun sudah tak mampu Sunyi lakukan lagi. Semua begitu indah hingga matahari meninggi dan Jarak harus kembali.


'Ddrrrttt...ddrrttt...'
Sebuah pesan datang dan membangunkan Jarak dari pulas tidurnya.

"Aku harus kembali" Jarak bergegas tanpa mandi atau sarapan pagi. Sunyi hanya mampu meneguk segelas air putih sambil tersenyum memandangi Jarak pergi.

'Aku akan menemuimu di pendopo besok'. Hanya itu pesan yang dikirimkan Jarak kepada Sunyi hari ini. Sunyi tak suka teka-teki, tak suka kejutan, dan tak suka rahasia. Ia tak suka jika Jarak tak memberitahunya mengapa mereka harus bertemu di pendopo.

Sunyi tahu ini tidak benar dan pasti akan berakhir. Sunyi hanya merasa belum siap dan tidak akan pernah siap. Tidak ada metode yang bisa Sunyi latih agar ia terbiasa untuk tidak mencintai Jarak. Sunyi memberikan sepenuh hatinya.

Tapi Sunyi tetap datang, membawa seikat bunga yang ia tahu tak akan pernah Jarak berikan padanya. Sempat terbesit dibenak Sunyi untuk tak datang. Ia belum mampu mengakhirinya. Semua masih terasa indah dan manis. Sebentar lagi.

'Kamu terlambat?' Jarak menyambut Sunyi.
'Aku membeli bunga yang aku tahu kamu tak akan pernah bawa untukku' Seikat bunga itu menyelamatkannya.
'Sunyi...' Jarak mulai menampakkan mata tajamnya, mengernyitkan sedikit dahinya. Jarak sedang serius.

Sunyi hanya menunduk dan mulai menangis seketika Jarak mulai bercerita. Ia tak sungguh mampu mendengar apa yang Jarak coba jelaskan. Tatap Jarak yang mulai mendingin sejak kedatangannya tadi sudah menjelaskan segalanya. Tak ada lagi hangat untuk Sunyi di sana.

Begitu usai dan tanpa mendapat atau meminta tanggapan dari Sunyi, Jarak melangkah pergi. Sempat Jarak menoleh kepada Sunyi yang ternyata masih menunduk. Entah dengan tatap mata seperti apa, Sunyi tak lagi ingin tahu. Ia tak mau lebih terluka mengetahui tatap mata yang dulu hangat itu mulai menjadi dingin dan kemudian menjadi iba.

Begitulah Jarak pergi meninggalkan Sunyi. Sekarang Sunyi tak lagi menemani Jarak ketika ia jauh dari kekasihnya. Sepi yang dahulu membuat Jarak takut, kini menjadi belati yang menyakiti hati Sunyi.

Kamis, 23 Juni 2016

PAMIT

Tatapmu seluas mata ibu yang menemani bayinya terjaga kala malam,
Suaramu selirih bujuk maaf ayah,
Derai angin yang berlalu dirambutmu,
Hanya bisa ditangkap oleh lekuk simpul di bibirmu,
Yang lebih indah dari bulan sabit sebelum ramadhan datang,
Lebih hangat dari nasi putih hasil sawah sendiri,
Aku pergi hanya ingin memastikan, apakah jarak bisa mengalahkan elok dan juga jernih jelmamu.

Jumat, 29 April 2016

Semua yang dititipkan akan kembali

Memiliki terlalu mahal untukku. Biasanya aku hanya boeh melihat, memandang, dan berkhayal saja. Sesekali waktu pernah juga dipinjamkan walau hanya sebentar. Tapi memilki? Bahkan diriku ini milik orang lain.

Semua yang aku kenakan adalah pinjaman. Semua yang aku makan adalah sisa. Semua yang aku inginkan adalah mimpi.

Hadiah? Barang mewah apalagi itu? Aku tak pernah mendengarnya sama sekali.

Pujian? Sejak kapan barang berharga seperti itu diberikan kepada gelandangan? Aku bahkan tak berani berkhayal mendapatkannya.

Kasihan? Aku tak butuh itu. Aku bukan gelandangan sengsara seperti yang kamu pikirkan. Kamu yang hampir memiliki segalanya merasakan ambisi, atau obsesi untuk menyempurnakan. Yang kamu juga tahu itu takkan pernah berhasil. Kamu yang punya banyak, pasti juga merasakan banyak kehilangan.

Aku? Aku bahkan tak tahu bagaimana rasanya terluka karena kehilangan yang dimiliki. Aku tak pernah memilki, ingat bukan? Aku tak tahu bagaimana berambisi dan terobsesi. Aku damai dalam ketidakpunyaanku.

Aku tak benar-benar merasa memiliki sesuatu yang hanya dititipkan padaku.

Kamis, 14 April 2016

Kesaksian Parang

Gunung Parang terletak di Plered, Purwakarta. Ketinggiannya hanya berkisar 900 mdpl. Apa yang membuatku ingin mendakinya? Hanya rindu suasana alam saja.

Tahun 2015 lalu, setelah Idul Adha, berbekal daging kurban yang aku masak tongseng dan tiga bungkus nasi. Aku bersama dua teman masa SMA yang kini berkumpul kembali dalam rangka long weekend. Tidak ada yang spesial, hanya ingin menikmati suasana alam saja.

Bersama teman-teman lain satu tempat kerja, terkumpullah 8 pemuda-pemudi yang rindu akan ketinggian dan kedamaian. Perjalanan kami tempuh dengan sepeda motor sekitar satu jam dari Purwakarta kota. Memasuki daerah Plered jalan mulai berliku dan menanjak. Kyai Supri (Red: Motor Supra-ku yang hanya mandi sekali dalam setahun) hampir saja gagal menyusuri jalanan terjal itu.

Sebuah parkiran di sebelah kiri jalan nan rindang, di bawah nauangan rimbun bambu adalah pemberhentian dan titik awal pendakian. Setelah bercakap-cakap sejenak dengan penjaga di sana kami sempat berfoto bersama. Narsis memang sudah menjadi budaya.
Muslimin dan muslimah taat beribadah siap mendaki.
Gunung-gunung dengan ketinggian berkisar seribu mdpl memang tanpa ampun. Tidak punya basa-basi sama sekali. Mendaki benar-benar denotatif dengan makna kata mendaki. Jalur menanjak bukan main, tanpa adanya mukaddimah terlebih dahulu. Warga telah menyusun anak-anak tangga sampai ke atas. Tangga disusun dengan kayu-kayu yang ditebang dari sisi kanan-kiri jalur pendakian.
Tangga yang disusun mengikuti tebing 90 derajat.
Menuju ke puncak bahkan sudah tak ada anak-anak tangga yang bisa didaki.
Hanya ada bebatuan dan dahan-dahan sebagai pegangan.
Kurang lebih begitulah lajur pendakian selama dua jam. Puncak? Enam dari kami sampai ke puncak, dua tinggal di dasar puncak, lebih memilih beristirahat diatas batu datar. Apa yang ditawarkan sang puncak? Akan aku bagi.
Pemandangan Jatiluhur dari Puncak 1 Gunung Parang.
Narsis lagi Cekrekk!
Narsis lagi Cekrek Cekrek!!
Begitulah fisik Gunung Parang, yang ternyata memang tak kalah indah dengan gunung lainnya. Tapi, setiap pendakian adalah perjalanan rohani untukku. Membersihkan jiwa dan menjernihkan hati. Tidak sekedar rekreasi semata menikmati suasana sejuk ketinggian.

Gunung tidak sampai satu kilometer tingginya ini tetap mampu mengajarkan pelajaran berharga. Sangat berharga. Apa yang bisa aku temukan jika aku berjalan sejauh 1 kilometer tapi di jalanan yang datar? Tidak ada, masih sama dengan apa yang aku saksikan setiap hari. Tapi, jika aku ubah perpektif lajurnya menjadi vertikal, seperti dalam pendakian Parang ini, apa yang aku dapat? Keindahan ciptaan Yang Maha Kuasa. Begitu Kuasa Tuhan yang mampu menciptakan makhluk beragam wujud dan sifat.

Pun dengan hidupku. Apa yang bisa aku temui dengan berjalan mendatar dengan jalur yang lurus-lurus saja? Dibandingkan dengan jika aku menarik lajur perjalanan mendaki dan berliku, akan lebih banyak dan beragam yang aku dapatkan. kepuasan sudah pasti berbeda. Aku tidak akan puas hanya dengan kehidupan yang biasa, karena Tuhan menciptakanku sempurna.

Parang bersaksi bahwa Tuhan memang Maha Kuasa.

Lelaki yang paling tangguh itu kamu

http://files.stablerack.com/webfiles/71513/prayerful_person.jpg
Setiap hawa yang aku kenal, termasuk aku sendiri, mendambakan sandaran yang kuat. Apa makna sebuah tiang, jika ia rapuh? Menipu dan bersamanya akan rubuh bahkan sebelum badai datang. Apa makna sebuah pelindung jika ia lebur bersama hantaman? Dengannya kamu tetap limbung dan jatuh.

Kekuatan untuk jadi sandaran dan lindungan hanya dapat hawa temukan pada adam yang tangguh.

Anyaman bisep yang kuat takkan membuat seorang adam menjadi cukup tangguh melindungi karakter lembut hawa yang lemah. Adam dengan finansial yang kokoh tidak akan cukup menjadi sandaran hati-hati yang lelah.

Adam diciptakan dengan kebesaran logika dan kuasa akan karsa. Adakah yang lebih tangguh dari makhluk kuat dalam lindungan Yang Maha Kuasa? Adam yang mampu bersimpuh dan meminta dalam doa untuk lindungan atas hawa-nya. Bersandar padamu hanya akan mengantarkan ke jalan kebenaran Tuhan.



Selasa, 12 April 2016

Bianglala

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyB4cUTNcENsL7e44zXoRSTORvB1EjNXX_Zgysn2vRG4yfuYEwq2aaanMqPmo5t3esibTSAqNMavFzwtbmmvNOneddziCMI2NISt3A5WF1iCmw4LO20jIpaKIrko1UTbij5NJ7Ai1I8g7X/s1600/IMG_9938_1.jpg
Begitulah aku diciptakan. Aku begitu anggun, tinggi, dan aku yang paling cantik di sini. Aku tahu banyak yang iri terhadapku. Mau bilang apa, aku dirakit dengan sulaman keindahan kerlip warna-warni dan dikaruniai gerakan anggun yang mampu melenakan pasangan-pasangan kekasih. Kerlipku menjulang tinggi menghiasi langit kala malam di taman hiburan seperti pelangi. Yah..aku bianglala.

Tua muda, siapapun itu, akan hanyut dalam romansa malam ditemani alunan musik yanng diperdengarkan. Ketika kalian masuk, lalu aku mulai berputar, menari diangkasa, suasana malam hanya milik kalian. Dan aku terus menari sampai beberapa putaran. Aku tahu kalian sangat menikmati memandang taman hiburan dari angkasa. Cantik bukan. Yah..itu hanya aku yang bisa berikan.

Kalian tahu, aku paling suka pada posisi 270°, ketika putaranku hampir selesai. Pada posisi itu gaya tarik bumi paling besar sehingga kalian akan merasakan sensasi terjatuh atau terhempas seperti ketika menaiki lift. Aku cuma bisa cekikikan melihat selalu ada tangan-tangan mesra yang bergandengan karena takut di dalam bianglala.

Aku memang sempurna. Aku jaga aman setiap penumpang dengan jeruji pengaman. Sambil beputar aku suguhkan pemandanan malam. Belum ditambah sensasi mendebarkan ketika putaranku hampir selesai.

Tapi.

Kalian tahu siapa itu kora-kora? Aku heran kenapa antrian untuk menaiki wahana berbahaya itu begitu panjang. Wahana berbahaya, tanpa pengaman. Penumpang diayun-ayunkan kesana-kemari dengan liar. Dia juga tak punya rem untuk bisa berhenti. Hanya mengandalkan kaki manusia. Bagaimana bisa aku disaingi oleh wahana tak sempurna itu.

Kora-kora memang tidak beranggung jawab. Dia begitu angkuh dan ceroboh. Bagaimana kalau satu penumpang saja jatuh. Kemudian berat antara sisi kanan dan kiri tidak akan seimbang. Perahu itu dengan serta merta dapat hilang keseimbangan dan berputar, menumpahkan seluruh penumpangnya yang tanpa pengaman.

Apa asiknya naik kora-kora. Berputarpun dia tak mampu selesai. Seratus delapan puluh derajat pun tidak.

Tapi.

Mengapa manusia-manusia itu masih saja mau menaikinya. Mereka berteriak-teriak ketakutan di atas sana, namun mereka akan antri dari ujung belakang untuk menaikinya kembali. Apa yang mereka pikirkan? Tidak sayangkah mereka pada dirinya sendiri?

Aku benar-benar tak memahaminya.

Minggu, 03 April 2016

Kudis

Respati sudah berhenti menangis. Dia membuatku terjaga sampai larut. Kali ini Sri sudah keterlaluan. Dia tidak pulang, wajarlah Respati nangis. Anak kecil itu, mau diapain juga tetep butuh ibunya. Dia belum tau seperti apa dan apa saja yang dilakukan ibunya diluar, selama dia digendong ibunya, pasti damai. Aku iri pada Respati. Seandainya aku masih bisa memeluknya dengan kasih ketika diluar sana dia mesra dengan lelaki lain.

Sri masih muda, dia baru dua puluh dua tahun. Aku menikahinya ketika dia lulus SMA. Dasar cantik, walaupun sudah melahirkan Respati, dia masih bak bunga desa di sini. Rambutnya hitam bergelombang. Aku jatuh cinta padanya seketika aku melihatnya tersenyum. Aku akan menikahinya janjiku.

Aku kira dia bahagia aku ajak hidup bersama. Mengandalkan jatah beras dari paruh hasil panen petani yang menggarap sawahku, sementara aku berdagang baju di kiosku, di pasar. Namun, sejak setahun lalu, ketika Sri mulai kursus menjahit di Kecamatan, dia sering pulang kesorean, bahkan kerap pula ba’da isya’ dia baru sampai rumah.

Macam-macam alasan Sri pulang telat. Pernah sekali karena tugas tambahan. Sekali pula dia pakai alasan kecopetan. Ada lagi ban angkudes yang dia tumpangi bocor. Sri tak pandai berbohong. Aku selalu tahu kalau dia bohong, lengannya akan digaruk seperti gatal. Jelas sekali. Selidik punya selidik, aku tahu dia sering piknik atau sekedar jalan-jalan dengan teman-teman kursusnya. Namun, yang jadi beban pikiranku adalah guru kursusnya. Adam itu duda tanpa anak, dia cerai sama mantan istrinya karena kepincut istri tetangga. Sudah pasti suami tetangganya itu ngamuk, terus pindah rumah. Aku takut Sri jadi sasaran selanjutnya. Sri masih terlalu polos.

Benar saja, Sri jadi lebih pandai berbohong akhir-akhir ini. Minggu lalu dia alasan pulang malam gara-gara harus beli bahan ke kota. Tugas dari guru kursusnya katanya. Jelas aja itu alasan Adam biar bis berduaan sama Sri. Empunya kios di perempatan terminal bilang kalau lihat Sri digonceng Adam. Mereka kelihatan mesra. Aku tahu semuanya. Dagang di pasar membuat semua informasi tentang Sri di tempat kursus sampai padaku.

Yang paling parah ya hari ini, sampai larut begini Sri belum pulang. Tanpa kabar. Aku sudah siap-siap sapu buat mukulin dia sesampainya di rumah nanti. Awas aja kalau besok aku sampai denger mereka pergi berdua. Awas aja kamu Sri. Mau alasan apalagi kamu.

Respati sudah tidur. Aku masih megap-megap, mondar-mandir kalap, nunggu Sri pulang. Pukul 1 dini hari. Kemana kamu Sri?

Pukul tiga dini hari, ayam jantan mulai berkokok lagi. Sudah sepertiga malam terakhir. Sri tidak pulang. Aku sama sekali tidak mengantuk. Aku sudah siapkan semua amunisi kali ini untuk membuat Sri tak punya alasan lagi. Kali ini sudah tidak bisa dimaafkan.

Subuh akhirnya datang. Aku tidak tidur semalaman, menunggu Sri pulang. Habis  sholat subuh aku sudah berniat lanjut ke rumah Pak RT melaporkan ketidakpulangan Sri. Aku yakin Sri bersama si Duda kampung sebelah itu. Aku sudah siap memergoki mereka.

"Tok tok tok"
Siapa itu subuh-subuh bertamu. Jangan-jangan Sri pulang. Aku bergegas membuka pintu.
"Pak Jali, Sri di rumah sakit di Kabupaten, Pak".
Seketika jantungku seperti berhenti berdetak sejenak. Ngapain aja aku semalaman ini bukannya mencari Sri, malah mikir yang tidak-tidak di rumah.
"Kok bisa, Pak RT? Sri kenapa?"

Pak RT Membawaku dengan mobil pick up nya ke rumah sakit segera. Aku gendong Respati yang masih tertidur.

"Mas Jali, Sri alergi gelang dari Mas Jali"

Dokter bilang Sri alergi gelang emas yang dia pakai di lengan kirinya. Itu gelang emas dariku. Aku bilang gelang itu jangan dilepas, itu hadiah buat Sri. Lengan kiri Sri selalu gatal-gatal tapi dia mengira kalau itu kudis, jadi dia hanya oles salep saja setiap hari. Lama-kelamaan kulitnya infeksi sampai sulit napas. Akhirnya kemarin sore dia pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.

Pantas saja dia selalu garuk-garuk lengannya akhir-akhir ini. Maafkan Mas Jali ,Sri.

Kamis, 31 Maret 2016

Pulang

Terlalu sunyi hingga suara angin menerpa dedauanan pohon pun terdengar jelas di telingaku. Di bawah temaram lampu kuning di taman dekat terminal aku menunggu. Sudah genap sepuluh tahun lebih kami tidak bertemu. Entah seperti apa rupanya sekarang. Dulu dia sering menyisir rambut ikalku sampai hampir lurus, klimis dengan polesan minyak urang-aring.

Dia memiliki mata cokelat seperti mata ibunya. Aku tidak suka melihatnya. Seperti ada sepasang mata dibalik kepalanya, mata yang sama, menatapku dengan nanar, marah. Aku lebih suka berdiri dibalik badannya, menunduk sambil menyisir rambutnya. 

Angin bertiup terlalu kencang dan dingin. Musim kemarau memang begini. Jahe hangat bisa dengan mudah mengusirnya, aku tak perlu gusar. Seharusnya aku membawa uang barang seribu-dua ribu. Bodohnya aku karena terlalu bahagia. Tapi benarkah aku bahagia?

Waktu itu, aku masih terlalu muda untuk memberinya nasehat. Kami masih hidup di atap yang sama dengan kakakku. Aku juga tak tahu apa yang dipikirkan tetangga tentang aku, tentang kami. Aku tak mau memikirkannya. Tapi mungkin kakakku yang menanggung semuanya. Entahlah, aku masih terlalu muda untuk itu. Kami masih sama-sama bau kencur, namun untuk urusan yang berbeda.

Mengapa busnya tak juga datang. Aku tak suka menunggu. Aku juga tak yakin sepuluh tahun ini apakah aku menunggunya. Hambar, dia pergi tanpa kabar dan sekarang kembali begitu saja. Aku kaitkan semua kancing jaket jeans ku. 

Aku peluk rapat tasku. Ada seragam, sepatu, dan semua perlengkapan sekolah. Aku sudah menjual semua yang aku punya di kota. Penjaga kios di ujung jalan itu benar. Tak ada gunanya aku menanggung malu dan menjadi pengecut kalau aku bisa memperbaikinya. Aku akan pulang.

Paman menyuruhku menunggu di pinggir stasiun, di taman dekat gapura. Hanya ada satu gapura disekitar sini, harusnya tidak sulit dicari jika dia memang sudah datang. Aku mulai berpikir untuk apa aku menunggunya. Paman cukup kejam kali ini. Bukankah tidak baik seorang gadis pergi ke stasiun sendirian malam-malam. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Di ujung jalan terlihat segerombolan tukang ojek yang hampir menyerupai sekumpulan preman menurutku. Aku menghela napas pelan. Baiklah mungkin setengah jam lagi, mungkin jalanan macet.

Seperti apa dia sekarang? Apakah dia akan mendengarkanku kali ini? Aku sudah cukup umur untuk bisa memberinya nasehat. Aku telah pergi ke berbagai kota, bekerja di bawah banyak majikan, sampai berani membuka usaha sendiri. Aku sudah cukup makan asam garam kehidupan. Sudah sering menyelesaikan banyak masalah kehidupan. Aku tau apa yang diinginkan nasib terhadapku.

Akhirnya aku melihat sebuah bus dari ujung jalan, mulai melambatkan lajunya, menepi untuk berbelok ke terminal. Diakah itu?

Apakah dia sudah tau kenapa aku pergi? Apakah dia akan memaafkan kepengecutanku ini? Apakah dia mau mendengarkan semua ceritaku?

Yah, itu dia. Seorang lelaki separuh baya berjalan dengan memeluk erat sebuah tas seakan takut tas itu direbut darinya. Dia datang. Bapak.

Sabtu, 19 Maret 2016

Tinggal


In a reply for ’Mengapa Belum Juga?’ By Azhar Nurun Ala.


Pantai,
Sudah takdir bahwa air dan daratan memang tidak satu.
Bersama, dekat, ataupun lekat adalah asa.
Namun Pantai Portleven di Inggris hilang jua hanya dalam semalam,
hempasan gelombang terlalu tinggi.



Panas,
Bersumpah selamanya menjiwai api.
Namun NASA membakar karbon di luar angkasa,
dan api hanya seperempat dari panas api seharusnya.
Panas telah dikhianati.


Dingin,
Siapalah salju yang hanya tetesan beku dari air.
Nitrogen, Oksigen, dan Neon cair bahkan ratusan kali lebih dingin.
Dan mau berkata apa ia jika bertemu dengan semesta yang hampir tiga ratus kali lebih dingin darinya?



Dan aku?
Jangan minta aku tinggal,
sedangkan kamu tiada.


"For me, the world is bigger than its seen."


Purwakarta,

18 Maret 2016

Sabtu, 21 September 2013

RINJANI

Cerita saya mulai dengan usia. Belum genap dua-dua usia gw, baru beberapa pulau di Indonesia yang sudah gw injak. Mumpung masih muda, begitu pikir gw. Baru sadar ketika perjalanan di kereta, Jogja-Banyuwangi. Seorang anak, usia kurang lebih 2 tahun memanggil gw dengan sebutan TANTE. Ibunya yang aku pikir memang baru seusiaku dengan polos mengajari anaknya untuk menyapaku, "Ayo salaman sama tante dulu". Dalam hati menggerutu, tante???? Polos si anak menirukan ibunya, berkali-kali memanggilku dengan gelar itu. Untung aku ga sendiri, dua teman yang juga berangkat dari Jogja, Fikry dan Arham kontan dipanggil dengan sebutan O OM. Hahaha. Ceritanya si adek kecil, yang kemudian aku tahu namanya adalah Distan, tidak bisa menyebut kata om, terlalu singkat, jadinya ya O OM. Lebih dari 12 jam kami di kereta dan aku mulai terbiasa dengan panggilan itu. Gila....Gw udah tuaaa
Photo by Om Gondrong~Fikry-Destan-Baco

Ini perjalanan kedua ku ke Lombok, cuma tujuannya beda. 14 Agustus 2013, berangkat dari Yogyakarta mau mendaki Gunung Rinjani. Tau kan Rinjani? Dewi Rinjai yang menemani ayahnya menyepi di gunung dan diangkat jadi ratu oleh jin dan penunggu di sana. Jadilah gunung itu bernama Gunung Rinjani. Ini perjalanan yang cukup gila buat gw. Bertiga berangkat dari Jogja, dan gw baru kenal dengan dua teman itu satu bulan sebelum keberangkatan, satu kali ketemu langsung main UNO bareng. Dalam hati gw berdoa, semoga nanti ga dibuang di jalan. Amiin

Photo by Ringo~Ada yang bisa liat dimana gw? *di dalem L300* *serius*
Sampai di Pelabuhan Lembar, satu rombongan ber sembilan belas. Bener saja, gw cewek sendiri. Sarang penyamun, anggap saja aku laki-laki. Itu foto di depan masjid apa gitu, sejuta masjid beneran nih Lombok. Setiap tikungan ada masjid, belum nyampe tikungan aja udah ada masjid. Tapi beneran, orang-orangnya emang suka nikung (baca: preman). Transportasi dikuasai preman, nahlo...gimana ga pusing. Ati-ati aja pokoknya kalo naik kendaraan umum di Lombok. ATI-ATI. Gw cuma bisa berharap semoga segera dibangun Busway atau TransLombok sebagai kendaraan umum. 

Arham, Fikry, Tama, Baco, Om Gondrong yang tidak lagi gondrong, Om Asep, Om Toni, Blower, Ikom, Rey, Agung, Reva, Ringo, Om Haris, Om Ghindos, Om Udin, Andri, dan yang terakhir Lukman. Udah lengkap kan? Pendakian dari jalur Sembalun, turun lewat Senaru. Acara pendakian ini bebarengan sama event internasional lari maraton naik turun Gunung Rinjani. Gila ga tuh. Jadi, selama pendakian banyak bule-bule gitu berlarian ke sana-kemari. Kesana-kemari maksudnya mereka udah naik-turun dan kita serombongan belum nyampe-nyampe di atas. Fyuuuuuuhhhhh

Tapi beneran loh, dibandingkan semua gunung di Indonesia, yang belum seberapa aku tahu, Rinjani adalah gunung dengan pendaki bule terbanyak. Pendaki bule paling banyak berasal dari Perancis. Ada juga yang dari Spanyol, Singapura, jepang, Inggris, Malaysia, banyak lagi. Dua minggu di sana, yakin score TOEFL langsung dua kali lipat. Bule berceceran dimana-mana. Gimana engga? Ada sosok idola yang setia membawakan barang-barang mereka, sebut saja PORTER. Ketika jalan terjal menanjak kita tempuh dengan merangkak, Porter menempuhnya dengan berjalan tegak, bener-bener titisan dewa. Porter bukan manusia. 

 Photo by Om Gondrong
Photo by Om Gondrong
Sementara, Rinjani Part I cukup sekian dulu. Aku sambung lagi lain kali.
#Unforgettable 3726 mdpl
Photo by Om Ghindos
Photo by Ringo
Photo by Om Ghindos

Sabtu, 07 September 2013

JENGAH

[07082013] The boring situations we create, make me feel bored to you. Sorry.

Mungkin aku butuh sesuap sabar untuk kembali dapat memaknai setiap degup jantung yang meninggi ketika menerima sekedar pesan darimu. Atau mungkin aku memang sudah terlalu bosan, sehingga sejuta kali jarum jam itu berputar akan tetap sama saja. Aku stuck pada harus menerima apa yang kamu inginkan. Sayangnya, kamu menerapkan asas free will yang tidak berkaitan satu sama lain. segala hal adalah unit yang tidak saling berhubungan. Padahal aku pikir kita sedang menjalin sebuah hubungan. Pulanglah, kembalilah menjadi pribadi yang aku kenal atau perkenalkan dirimu yang baru padaku. Kamu begitu sulit dipahami.

Jumat, 06 September 2013

KOPI LOMBOK

Seorang teman membawa kopi sebagai oleh-oleh sepulang dari Lombok, usai mendaki Rinjani. Aku memilih untuk membawa souvenir biasa, ala kadarnya. Kaos untuk orang-orang terdekat.
Pendakian Rinjani, aku dan delapan belas teman lain dari berbagai kota. Bandung, Jakarta, Solo, Jogja, Surabaya, Denpasar, Lombok, macam-macam. Lama pendakian empat hari empat malam. Kami naik dari Sembalun, turun lewat Senaru. Panorama, kebersamaan, dan jerih payah yang benar-benar astaga. Kehabisan logistik. Malam keempat kami berdelapan mau tidak mau harus sampai bawah dan makan. Tidak boleh berhenti mendirikan tenda walaupun hari sudah gelap. Kehabisan bekal. Kami terpisah dari sebelas teman lain yang membawa logistic.
Pukul sebelas malam, kami sampai di Senaru. Istirahat di warung Pak Dermawan dan ibu tirinya. Teman-teman sudah pasti langsung mengambil nasi bungkus, makan. Aku cukup dengan segelas the hangat. Usai cuci muka dan kaki, kami tidur lelap, lelah.
Esok paginya, masih sayup sayu aku bangun dan duduk di teras rumah Pak Dermawan. Pendaki lain yang juga turun semalam berbincang hangat dengan segelas kopi di warung Pak Dermawan, yang lain mandi atau bersiap pulang. Aku beranjak menuju warung dan emmesan segelas kopi hitam. Menunggu kopiku, aku menghampiri biji-biji kopi yang dijemur di halaman. ‘Kopinya Mbak’. Ini kopi dari biji-biji itu, dari tanaman yang di sepanjang perjalanan turun kemarin. Aku hirup sejenak, dan srupuuuuttt. Ahh, kopi ini tidak sempurna. Bijinya tidak digiling sampai halus. Manis gula sekaligus rasa pahit yang unik. Selalu ada keunikan pada setiap kopi daerah. ‘Di sini, hampir setiap rumah membuat kopinya sendiri’, kata seorang teman. Begitu beragam pikirku.
Aku minum habis kopi itu dan memesan satu gelas lagi. Lahap aku meminumnya. Pahit dan begitu beragam, membuatku lebih tenang. Aku yang berbeda pasti juga akan diterima. Masih banyak ada yang lebih pahit dari hidupku. ‘Doyan kopi, Lady Boy?’, seorang teman sampai keheranan melihatku menghabiskan dua gelas kopi pagi itu. Aku suka kopi, tapi aku tidak akan membawanya pulang, apalagi untuk oleh-oleh. Kaos saja tidak apa-apa. Karena aku ingin dating ke sini, lagi dan lagi. Dan kaos saja tidak apa-apa, agar mereka yang etrdekat juga dating saja nanti sendiri, mencicipi kopi Lombok ini.

Untuk diriku sendiri dan secangkir kopi

Senaru, 20 Agustus 2013

Minggu, 12 Mei 2013

MASUK KULIAH



Baru saja aku baca cerita di wordpress seorang teman, dia cerita tentang pengalamannya daftar PTN dulu. Lucu. Jadi keinget kisah sendiri dan tertarik pula buat crita di sini. Siapa tau bisa membantu *ragu*. Hahahahhaha. Entah tanggal berapa dulu, aku lupa, aku ikut UM UGM tahun 2009. Sehari sebelum test, sore, aku berangkat dari Solo bersama teman satu sekolahku, Uyung. Kita berangkat naik sepeda motor. Aku di depan. Baru sampai daerah Kartasura, hujan mengguyur. Karena rumah temanku itu ada di Sawit, jadi kami putuskan untuk mampir saja dulu ke rumah dia, ngiyup. Sampai menjelang maghrib, hujan tak kunjung berhenti malah semakin deras dan seram saja. Yahhhh..pada dasarnya emang aku orangnya keras kepala, aku memaksakan untuk menerobos hujan. Sudah pasti rencanaku dilarang keras oleh ibunya Uyung. Hujan, angin, petir pula. Agak sedikit gondok sama ibunya Uyung, tapi ya mau gimana lagi, aku nurut juga.
Usai maghrib, hujan tak kunjung reda juga, padahal besuk ujiannya pagi, jam 7 kalo kalau tidak salah.Ibunya Uyung menyerah. Kami melanjutkan perjalanan menembus hujan. Mantel yang kami kenakan tak mampu menahan derasnya hujan, basah semua. Sejujurnya aku baru kali ini ke UGM dengan sepeda motor bersama teman yang juga belum tau dimana UGM itu berada. Hujan dan tak tahu jalan. Aku masih ingat seberapa deras hujannya waktu itu, sampai kalau ada mobil atau bus lewat jarak pandang hanya 1-2 meter saja. Belum Petirnya. Lengkap sudah. Perjalanan kami tempuh sekitar 3 jam dengan melewati AMPLAZ sebanyak dua kali. Baru setelah menjadi mahasiswa UGM aku sadar kalo ke UGM dari Solo melewati AMPLAZ dua kali itu adalah kebodohan. Artinya, kami berputar dan melewati ringroad sampai melewati Jalan Solo-Jogja LAGI. Bodoh juga pikirku sekarang. Tapi itu dulu, hahahhahhaha. Sampai di depan RRI untuk kedua kalinya, aku pasrah dan menelepon kakakku untuk menjemput kami. Tak berapa lama kakakku datang dengan sepeda motornya dan kami mengikuti. Basah kuyup, kami sampai di kos an kakakku dan berlalu masuk ke kamar. Kos an khusus cowok. Oke. Anggap saja kami cowok. Aku bongkar tasku dan basah kuyup. Aku jemur pakaian-pakaianku, berharap besok bisa dipakai.
Paginya aku bangun dan mendapati ternyata pakaianku sudah, masih basah kuyup. Gontai kembali ke kamar dan pasrah. Aku mandi bergantian dengan temanku, kakakku membelikan kami sarapan. Aku kenakan pakaianku yang basah kuyup dan meminjam jaket kakakku yang asytaghfirullah baunya. Cowok, Oke cukup tahu. 
Tidak tahu dia dapat sarapan dari mana sepagi itu, dengan lahap kami memakannya dan bersiap untuk berangkat. Aku naik sepeda motor dan langsung ke Farmasi, karena di sanalah tempat ujianku. Sedangkan Uyung di antar kakakku ke Teknik Sipil. Sedikit risih dengan pakaian basahku, aku tidak kesulitan menemukan ruangan dan tepat duduk. Baru berapa saat aku duduk, Uyung mengabari kalau dia salah ruang, bukan hanya itu, dia salah gedung. Seharusnya dia ke gedung D3 tapi malah di S1, dan jaraknya jauh. Aku suruh dia menghubungi kakakku saja yang sudah balik ke kos, karena memang aku juga tidak tahu jalan ke D3 Teknik Sipil.
Duduk tenang di bangkuku, teman sebelah kiriku adalah seorang cowok Chinish berkacamata, begitu rapi dan sebelah kananku cowok selengekan dengan tas menyamping. Benar-benar kontras, inilah dunia perkuliahan pikirku. Soal mulai aku kerjakan. Tetangga sebelah kiriku begitu khusuk, dan benar saja aku menoleh ke sebelah kanan, dia melempar satu bendel soal ke atas tasnya di lantai, dan menggunakan satu bendel lainnya untuk KIPASAN. Laki-laki. Beberapa saat kemudian, kruweelll kruweeelll kruweeellllll. AAaaarrrrggghhh....perutku muleessss sakit banget. Makanan apa yang aku makan pagi ini kakakku tercinta. Laki-laki. Pakaian basah dan perut mules, lengkap sudah penderitaanku. Kalo dilihat langsung tiga sejajar ini benar-benar, Rrrrrrrrwwww banget. Aku kerjakan soal sebisaku sambil tentu saja memegangi perutku yang sakitnya aduhai sangat ini. Semrawut sekali UM ku ini.
Pengumuman datang dan aku diterima di Fakultas Biologi, pilah ke dua ku. Iseng, aku cari teman duduk sebelah kanan dan kiri saat UM dan yaaahhhhhh keduanya tidak diterima. Sekian cerita saya, mungkin dari kalian ada yang bisa mengambil hikmahnya *ragu* Haahhahahhahahha

Kamis, 09 Mei 2013

PENDAKIAN LAWU


Mas Bait-Aku-Dylan
[4-5/5/2013] Hidup itu seperti mendaki gunung, akan melewati banyak puncak dan membutuhkan antiklimaks untuk dapat memaknainya. Semakin tinggi pendakian, semakin banyak pula puncak-puncak lain yang terlihat. Semangat seorang pendaki, selalu merasa kurang tinggi, belum lebih tinggi dari.Terkadang, puncak yang terabaikan justru jauh lebih tinggi daripada puncak yang diharapkan. Ternyata dia pernah dan telah lebih tinggi daripada puncak yang dia harapkan sekarang.

Seorang pendaki, mengagungkan kepuasan dan menghargai proses. Ketika ia telah lebih tinggi dari puncak yang diharapkannya, ia berkata 'Tunggu sampai aku lebih tinggi dari awan itu'. Selalu dan selalu ada yang lebih tinggi, akan selalu ada hal lain yang ia inginkan. She never stop. 'Aku harus bergegas, sebelum awan itu memudar'. Ada tenggat di setiap hal yang diinginkan, selalu ada rencana. Dan terkadang, ia gagal. Burung-burung mulai terusik dan terusir, kembali ke sarangnya. Dan awan itu telah habis ditelan gelap. Aku kehilangan sunset sore itu. Mendaki itu belajar ikhlas dan sabar. Dengan gontai kuayunkan kaki, terus mendaki. Karena aku tahu, tidak ada yang bisa aku dapatkan di sini. Hingga senja menjelang dan mulai bergegas ke peristirahatan. Sunyi, menunggu pagi.
Tersisih disudut tenda, apalah aku ini. Liku pendakian benar serupa dengan jalan hidup. Mendaki, terjal, dan berkelok. Jernih aku berpikir, bukan untuk apakah aku akan lebih tinggi dari siapa, tapi apakah aku akan lebih tinggi menggapai apa. Bukan untuk iri aku hidup, bukan untuk penyesalan aku mencoba. 
Sunrise di puncak
Ketika fajar menyingsing pagi, langit merona membentuk zona horisontal kemerahan di ufuk barat. Jauh lebih indah, begitu cantik. Hingga awan tersipu malu, membiaskan sinar matahari yang menyapa pagi. Semakin terang. Dan indah itu ditelan kehangatan. Aku mendapatkan sunrise di Argo Dumilah.
Beberapa scene yang terekam selama pendakian, sebagai bonus.

Ini bukan puncak~selalu ada puncak menutupi puncak
 Telaga sarangan dari atas~Cantik
 Pendaki juga butuh istirahat :D
 Vandalisme di gunung; batu tulis
 Take nothing but picture; Edelweis
Makanan wajib pendaki gunung; berry liar 

Argo Dumilah 3265 mdpl

Rabu, 24 April 2013

CEMARA

Tuhan ciptakan cemara
Pohon tangguh dengan daun rapuh
Tuhan ciptakan cemara
Kokoh menjulang tak takut tumbang
Cemara
Mengingatkan,
Ketidaksempurnaan adalah bagian dalam kesempurnaan.
Stay strong, and stay young!

Minggu, 24 Maret 2013

Sorry


You're the only one who'll be sorry by the day I left.

Rabu, 13 Maret 2013

Susur Pantai Congot-Glagah

              Dalam rangka survey DIKJUT KSK yang aduhai gilanya itu. Aku, Shinta dan Agustin menyusuri pantai sepanjang entah berapa kilometer. Pantai Congot sampai Pantai Glagah kami tempuh berjalan kaki di atas pasir panas terik matahari pukul 11.00 WIB. Pas sekali panasnya. Tidak kurang dari dua jam perjalanan kami. Berikut beberapa adegan yang sempat terekam kamera *Halah*
 Berpose dulu sebelum berangkat (Aku dan Shinta)
 Agustin masih sempet main ayunan
 1 jam perjalanan
Semua Terbayar setelah sampai di Laguna dan melihat Dermaga
 Laguna Pantai Glagah
 Dermaga
 Terkapar tak berdaya



Perburuan Capung di Pasir Mendhit~Kulon Progo

 Tambak Ikan
 Masih di Tambak Ikan
 Padang Rumput
  Padang Rumput
 Muara Sungai Bogowonto
Sungai Bogowonto di bawah terik sinar sore
 Bibit-bibit Bakau
Di bawah nauangan cemara udang dari terik matahari sore

Jingga Jogja



[13032013] Di tengah kumandang adzan, langit jogja begitu menawan.





A Little Story Has Begun


Oke. Harusnya sekarang aku sedang mengerjakan proposal skripsi ibuku yang harus aku serahkan besok. Agenda nongkrong di Angkringan Ndelik, berujung pada mantengin layar laptop, pastinya bukan memulai menyusun BAB DUA, tapi menjejali kembali blog ku ini dengan tulisan-tulisan, cekeran-cekeran ayam.
Sebelumnya, aku mau ngucapin makasih banget buat Chandra Pradhitaningrum, Afina Dina Kamila, Thoriq Teja Samudra, dan seluruh penghuni Palung yang menyempatkan menyusuri setiap senti tulisan di blog ku yang indah ini. Makasih buat kalian yang KEPO abis. Al hasil, benar saja, pengunjung blog ini naik drastis. Yang biasanya Cuma laba-laba numpang bikin sarang, sekarang ada puluhan pengunjung datang, menyaksikan setiap jengkal kegalauanku dan menertawakannya. Puas kalian? *Nangis darah*
Well…begini ceritanya. Aku ada penelitian baru, bareng sama teman-teman KSK, sebutin ya? Fina, Lolit, Afra, dan Amir, dalam sebuah tim bernama Graciteri (Gracilaria Antibakteri). Nama itu bisa berubah jadi Graciterius (Graciteri misterius) ketika dosen-dosen mencari-cari dimana orang-orang dalam tim ini yang tidak kunjung mendatangi dosen pembimbing. Tapi akhirnya, setelah mendapatkan teguran sana-sini, dengan lantang namun dalam hati kami berucap ‘Kami serius, Bu’. Jadilah Graciterius, Graciteri serius.
[12032013] saya beserta tim, dikurangi Fina yang ternyata sibuk praktikum KJT (padahal yakin dia sebenernya pengen ikut) dan Amir yang sakitnya gak tanggung-tanggung (Tipes dan DB), berangkat ke Jepara, menyusuri pantai demi pantai demi mendapatkan sekarung Gracilaria. Sebelum subuh kami sampai di Pantai Kartini dan mulai mencari suatu tempat yang sudah bernyawa. Dari kejauhan Nampak sebuah cahaya….*lebay* terlihatlah pos satpam. Bagaikan Mendapatkan Durian runtuh, bapak satpam menawari kami sekarung Gracilaria. Seakan tidak percaya dan memang kami tidak percaya, kami melanjutkan perburuan sekarung Gracilaria kami. Perburuan dilanjutkan ke Pantai Kartini setelah Subuh, sambil menikmati suasana pagi dan mencari sarapan.
Sarapan begitu nikmat dengan menu seafood menggugah selera. Tidak ketinggalan aku jeprat-jepret di sepanjang pantai. Bagus juga Pantai Kartini saat pagi. Nanti saya bagikan foto-fotonya di bawah. Selesai sarapan, Bapak-bapak satpam datang membawa contoh Gracilaria, tetap kami tidak percaya. Warnanya hijau kecoklatan, Gracilaria kan Rhodophyta (Algae merah) mana mungkin warnanya hijau, pikir kami. Lagi, kami tinggalkan bapak satpam itu.
 Warung Bu Lastri
 Pantai Kartini~Jepara 
 Pantai Kartini~dari Dermaga
A shoot on a Boat
Kura-Kura Ocean Park~Pantai Kartini Jepara
Perjalanan kami lanjutkan. Destinasi kedua, Pantai Bandengan. Setelah muter-muter nyari jalan (Baca: Nyasar), sampai kami di sebuah warung di ujung jalan. Berbondong-bondong warga datang dan menawari kami berbagai algae, tetap kami tidak percaya. Warganya tidak meyakinkan (Atau aku dan teman-teman yang sok, tak tahulah. Hahahha). Akhirnya, amunisi terakhir kami keluarkan. Apabila kami tidak mendapatkan algae yang kami cari itu, terpaksa kami menggunakan algae dari warga yang masih anggota Rhodophyta, namun beda jenis. Pilihan terakhir kami, bertanya pada dosen pembimbing. Dengan sedikit memaksa melalui sms dan email, kami kirimkan foto algae pertama yang ditawarkan Pak Satpam. Sekian jam kami menunggu balasan, dan benar, berdasarkan tipe percabangannya, Algae itu adalah anggota Genus Gracilaria yang agung. Sempat aku menyebut tim kami sebagai Gra’shit’eri, tapi kini berubah jadi Gra’sweet’eri. Ah…nama yang bagus, bisa diubah-ubah sesuai Mood.
 Pantai Bandengan Jepara
 Pantai Bandengan Jepara
 Pantai Bandengan Jepara
Pantai Bandengan Jepara
Kembali kami ke Pos Satpam Balai Besar Budidaya Air Payau Jepara dan mendapatkan sekarung Gracilaria dengan harga yang fantastis mahalnya, 90K. Kami tahu kalau kami ditipu. Itu adalah algae sisa panen, tapi mau apalagi, kami butuh. Inilah manusia, pintar memanfaatkan kesempatan. Bahkan 5 Orang mahasiswa tidak ada apa-apanya dibandingkan seorang satpam. Apalah artinya pendidikan kami ini *Lompat Jurang*.
Kami pulang dengan bahagia, dan bersiap merencanakan apa yang akan kami lakukan nanti. *Gra’sweat’eri*